TANGERANG, BANTEN – // www.RaiderNet.id // Profesor Sutan Nasomal, S.H., M.H., berharap Presiden RI Prabowo Subianto segera mengambil langkah konkret untuk memastikan keselamatan dan kepulangan seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Tangerang, Banten, yang mengaku mengalami tekanan selama bekerja di Libya.
Sutan Nasomal meminta pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) segera melakukan penelusuran terhadap keberadaan dan kondisi pekerja migran tersebut serta mengambil langkah perlindungan apabila ditemukan adanya persoalan serius.
“Apapun kasus yang menjadi penyebab permasalahan TKW di Libya maupun negara-negara lain, pemerintah Republik Indonesia harus menyelamatkan warganya dari berbagai persoalan, apalagi menyangkut hak asasi dan kemanusiaan,” ujar Prof. Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan online melalui sambungan telepon seluler, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri mendapatkan perlindungan, terutama apabila terdapat dugaan perlakuan tidak manusiawi, persoalan gaji, penempatan kerja yang tidak sesuai perjanjian, maupun persoalan lain yang berpotensi merugikan pekerja migran.
“Kita harapkan Presiden Bapak Haji Prabowo Subianto segera memerintahkan atas nama negara agar Kemenlu bersama Kemenaker turun ke Libya untuk memastikan kondisi warga negara kita dan, apabila memang diperlukan, segera memfasilitasi kepulangannya ke Indonesia,” tegasnya.
Mengaku Dijanjikan Bekerja di Turki
Permintaan tersebut disampaikan menyusul beredarnya video pengakuan seorang perempuan yang disebut bernama Sumiati (46), warga Kabupaten Tangerang, Banten, yang mengaku tengah mengalami tekanan saat bekerja di Libya.
Video berdurasi sekitar 2 menit 11 detik tersebut disebut beredar di salah satu grup WhatsApp komunitas warga Tangerang, GAMATA, pada Minggu (9/8/2026).
Dalam video itu, Sumiati menyampaikan keluh kesahnya sembari menahan tangis. Ia mengaku semula dijanjikan bekerja di Turki dengan gaji sekitar 350 dolar AS. Namun, menurut pengakuannya, ia justru diberangkatkan dan bekerja di Libya dengan gaji yang disebut hanya sekitar 300 dolar AS.
Sumiati juga mengaku telah beberapa kali berpindah majikan. Namun, perpindahan tersebut menurutnya tidak membuat kondisi yang dihadapinya menjadi lebih baik.
“Saya ditipu agen. Saya sudah empat kali gonta-ganti majikan, saya belum pernah menerima gaji. Katanya orang kantor yang menerima,” ungkap Sumiati dalam video tersebut.
Ia juga mengaku pernah mendapatkan ancaman dari majikan keempatnya. Menurut pengakuannya, ia diperingatkan akan dikembalikan kepada pihak kantor agen apabila pekerjaannya dinilai tidak cukup bersih.
Sumiati menggambarkan beban pekerjaan yang menurutnya harus dilakukan seorang diri.
“Di sini banyak angin, rumah sebesar ini saya sendiri yang mengerjakan,” ujarnya sembari terisak.
Dalam kondisi tersebut, Sumiati kemudian meminta bantuan pemerintah agar dirinya dapat dipulangkan ke Indonesia.
“Saya cuma minta tolong pulangkan saya ke Indonesia. Saya tertekan, saya nggak kuat,” ucapnya dalam video.
Minta Pemerintah Daerah Turun Tangan
Dalam video lainnya, Sumiati juga menyampaikan permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Pemerintah Provinsi Banten agar persoalan yang dialaminya mendapat perhatian.
Ia mengaku berasal dari Kampung Kebon Cau, RT 011/RW 003, Desa Kosambi, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, dan saat ini berada di Libya.
Selain video pengakuan tersebut, beredar pula foto identitas diri yang disebut memuat nama, alamat, serta keterangan mengenai asal-usul Sumiati.
Namun, sejumlah informasi dalam video tersebut masih berupa pengakuan Sumiati dan belum dapat diverifikasi secara independen. Termasuk dugaan penipuan oleh agen, persoalan pembayaran gaji, proses penempatan kerja, perpindahan majikan, serta kondisi pekerjaan yang dijalaninya.
Karena itu, diperlukan langkah verifikasi dan penelusuran oleh instansi berwenang untuk memastikan fakta sebenarnya, termasuk memeriksa pihak agen penempatan dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses keberangkatan Sumiati ke luar negeri.
Negara Diminta Pastikan Keselamatan PMI
Prof. Sutan Nasomal menilai persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada viralnya video di media sosial. Pemerintah, menurutnya, perlu memastikan keberadaan dan keselamatan Sumiati terlebih dahulu, kemudian menelusuri seluruh proses penempatan dan kondisi ketenagakerjaannya.
“Jangan sampai jeritan seorang pekerja migran Indonesia di negeri orang hanya berhenti sebagai video yang viral di jagat maya. Negara harus hadir memastikan keselamatan warganya,” katanya.
Ia berharap Kemenlu melalui perwakilan diplomatik Indonesia di Libya dapat segera melakukan pengecekan terhadap kondisi Sumiati dan berkoordinasi dengan Kemenaker serta instansi terkait di Indonesia.
Menurutnya, apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran hak pekerja migran atau persoalan hukum dalam proses penempatan, pemerintah harus mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah pemerintah dalam memastikan keberadaan, keselamatan, serta hak-hak Sumiati sebagai warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.
(Red/Rufi i)

