GUNUNGKIDUL – // www RaiderNet.id // Persoalan akses masyarakat terhadap hasil tangkapan nelayan kembali menjadi perhatian di kawasan Pantai Baron, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Sejumlah warga mengeluhkan sulitnya memperoleh ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat, meski ikan tersebut didaratkan di pantai yang menjadi wilayah mereka.
Pantauan di lokasi pada 6 Oktober 2026 menunjukkan sejumlah kendaraan pikap telah menunggu di sekitar area pendaratan. Kendaraan tersebut dilengkapi kotak styrofoam yang disiapkan untuk menampung ikan hasil tangkapan nelayan yang baru tiba dari laut.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga yang hendak membeli ikan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga harus pulang tanpa mendapatkan hasil laut yang diharapkan.
Salah seorang nelayan menjelaskan bahwa sebagian ikan hasil tangkapan telah dipesan sebelumnya oleh pembeli dari luar daerah.
“Maaf Bu, ini sudah dipesan sebelumnya. Ikan-ikan ini sudah dibooking untuk dibawa ke MBG,” ujar nelayan tersebut.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Ketika hasil tangkapan sedang melimpah, pasokan ikan biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak, baik pembeli dari luar maupun masyarakat sekitar.
“Kalau sedang musim ikan banyak dan melimpah, semuanya pasti kebagian, warga maupun pembeli dari luar,” katanya.
Namun, situasi berbeda terjadi ketika hasil tangkapan nelayan menurun. Dalam kondisi ikan terbatas dan jumlah kapal yang melaut tidak banyak, ikan yang telah memiliki pembeli atau pesanan sebelumnya cenderung langsung terserap.
Warga mengaku bukan bermaksud menghambat aktivitas perdagangan maupun mempertanyakan hak nelayan untuk menjual hasil tangkapannya kepada pembeli yang menawarkan harga terbaik. Persoalan yang mereka soroti lebih kepada mekanisme distribusi ketika stok ikan sedang terbatas.
Bahkan, warga yang hanya membutuhkan sekitar 2–3 kilogram ikan untuk konsumsi keluarga disebut kesulitan memperoleh ikan. Kepadatan kendaraan pembeli di sekitar area pendaratan juga membuat akses warga menjadi semakin terbatas.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah dapat turun tangan mencermati persoalan tersebut, terutama berkaitan dengan pola penyerapan dan distribusi hasil tangkapan nelayan.
Mereka meminta agar terdapat mekanisme yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan nelayan, pembeli dari luar daerah, serta kebutuhan masyarakat sekitar Pantai Baron.
“Nelayan tentu harus mendapatkan harga yang layak. Tetapi kalau ikan sedang sedikit, kami berharap masyarakat sekitar juga tetap mendapat kesempatan membeli untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap salah seorang warga.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui dinas terkait dapat melakukan evaluasi dan membuka ruang dialog antara nelayan, pedagang, pengelola tempat pendaratan ikan, serta masyarakat.
Dengan demikian, aktivitas perdagangan hasil laut tetap berjalan, nelayan memperoleh keuntungan yang wajar, sementara masyarakat sekitar tidak merasa kehilangan akses terhadap hasil laut yang didaratkan di wilayah mereka sendiri.
Persoalan tersebut sekaligus menjadi perhatian mengenai pentingnya tata kelola rantai distribusi hasil perikanan yang transparan dan berkeadilan, khususnya ketika produksi ikan mengalami penurunan.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari instansi terkait mengenai mekanisme penjualan dan penyerapan hasil tangkapan nelayan di Pantai Baron saat pasokan ikan sedang terbatas.
(Red/Supri)

